PRABUMULIH, Siang itu matahari bersinar terik di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Di sebuah dapur sederhana, tangan-tangan terampil para ibu sibuk mengaduk adonan kue kering, suara mesin pengaduk adonan terdengar berdengung pelan. Aroma mentega dan gula memenuhi ruangan kecil tempat para ibu menyiapkan kue kering pesanan pelanggan.
Tak jauh dari rumah itu, panel-panel surya berdiri menghadap langit terbuka. Dari sinar matahari yang melimpah di desa tersebut, energi listrik kini mengalir untuk menggerakkan dapur usaha warga sekaligus menerangi rumah-rumah ketika listrik padam.
“Dulu kami terbebani tagihan, sekarang kami memanen harapan,” kata Suhartini (45), Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Jumat (13/3/2026).
Kelompok yang beranggotakan 30 perempuan desa ini mengelola usaha kue kering rumahan yang kini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp8 juta setiap bulan. Namun perjalanan usaha itu tidak selalu berjalan mulus.
Beberapa tahun lalu, listrik yang kerap padam menjadi kendala terbesar bagi usaha mereka. Saat pesanan pelanggan menumpuk, mesin pengaduk tiba-tiba berhenti dan oven tidak dapat digunakan.
“Kami sering cemas. Kalau listrik mati, semua pekerjaan terhenti. Satu-satunya pilihan hanya genset solar,” kenang Suhartini.
Penggunaan genset memang membantu produksi tetap berjalan, tetapi juga membawa beban biaya yang tidak kecil. Untuk listrik dan bahan bakar solar, kelompok usaha ini harus mengeluarkan hingga sekitar Rp2 juta setiap bulan.
Perubahan mulai terjadi pada akhir 2024 ketika PEP Pendopo Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, memfasilitasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 5 kWh di Desa Sukakarya.
Panel-panel surya tersebut memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik alternatif bagi masyarakat desa. Energi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menunjang berbagai aktivitas warga, termasuk usaha kue yang dijalankan KWT Melati.
Sejak saat itu, mesin pengaduk dan oven produksi kue dapat beroperasi tanpa khawatir pemadaman listrik. Biaya operasional pun jauh lebih ringan karena tidak lagi bergantung pada genset.
Agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, seorang warga desa bernama Sardiono mengikuti pelatihan sertifikasi pemeliharaan PLTS sehingga mampu melakukan perawatan sistem listrik tenaga surya di desa.
Manfaat energi surya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha.
Saat listrik desa padam pada malam hari, sebagian rumah warga masih dapat diterangi lampu bertenaga surya. Di bawah cahaya lampu sederhana itu, anak-anak desa tetap dapat membaca buku dan mengerjakan tugas sekolah.
KWT Melati kini juga berperan sebagai penggerak edukasi di masyarakat. Dalam berbagai pertemuan desa, mereka mengajak warga memahami pentingnya penghematan energi serta pemanfaatan energi terbarukan.
Selain membantu perekonomian warga, penggunaan PLTS juga memberi dampak positif bagi lingkungan. Sistem tersebut diperkirakan mampu mengurangi emisi hingga sekitar 8 ton karbon dioksida setiap tahun di Desa Sukakarya.
Jika sebelumnya suara genset dan asap solar kerap menyertai aktivitas produksi, kini energi matahari bekerja tanpa bising dan tanpa polusi.
Berkat inovasi tersebut, Desa Sukakarya bahkan terpilih sebagai desa terinovatif di Kabupaten Musi Rawas.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari semangat masyarakat desa, khususnya para perempuan di KWT Melati.
“PLTS ini adalah alatnya, namun motor penggerak utamanya adalah daya juang ibu-ibu KWT Melati. Energi matahari membantu mereka mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.
Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip, juga mengapresiasi kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan di desa.
“Kesuksesan ini lahir dari perpaduan teknologi tepat guna dan semangat gotong royong masyarakat desa,” katanya.
Bagi warga Desa Sukakarya, matahari kini tidak hanya menandai pergantian siang dan malam. Energinya menggerakkan dapur usaha perempuan desa, menerangi buku pelajaran anak-anak, sekaligus membawa harapan baru bagi masa depan yang lebih mandiri.
Tentang PHR Regional Sumatra Zona 4.
PHR Regional Sumatra Zona 4, Subholding Upstream Pertamina, mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yakni PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.
Wilayah kerja tersebut tersebar di dua kota, yaitu Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten: Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.
PHR Regional Sumatra Zona 4 berada di bawah koordinasi dan pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).



0 Komentar